Jumat, 30 Desember 2016

Strategi Pembelajaran atau Strategi Intruksional?

Strategi Pembelajaran atau Strategi Intruksional?

Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pelajar dan kreatifitas pengajar. Pembelajar yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreatifitas guru akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar.

Sedangkan strategi pembelajaran merupakan hal yang perlu diperhatikan guru dalam proses pembelajaran. Paling tidak ada tiga jenis strategi yang berkaitan dengan pembelajaran, yakni (1) strategi pengorganisasian pembelajaran, (2) strategi penyampaian pembelajaran, dan (3) strategi pengelolaan pembelajaran.

Uraian mengenai strategi penyampaian pengajaran menekankan pada media apa yang dipakai untuk menyampaikan pengajaran, kegiatan belajar apa yang dilakukan siswa, dan dalam struktur belajar mengajar yang bagaimana. Strategi pengelolaan menekankan pada penjadwalan penggunaan setiap komponen strategi pengorganisasian dan strategi penyampaian pengajaran, termasuk pula pembuatan catatan tentang kemajuan belajar siswa.

Strategi pembelajaran, sering pula disebut dengan istilah strategi instruksional. Menurut Dick dan Carey (2001) strategi instruksional menjelaskan komponen-komponen umum dari suatu set bahan instruksional dan prosedur-prosedur yang akan digunakan bersama bahan-bahan tersebut untuk menghasilkan hasil belajar tertentu pada peserta didik. Ada lima komponen utama dalam strategi instruksional, yakni:

1)            Kegiatan pra instruksional;
2)            Penyajian informasi;
3)            Pasrtisipasi peserta didik;
4)            Tes;
5)            Tindak lanjut.

Kelima urutan tersebut bukan satu-satunya, melainkan ada beberapa ahli yang mengemukakan pendapatnya seperti Merril dan Tennison (1977) menyebut strategi instruksional sebagai urutan tertentu dari penyajian serta Gagne, Briggs dan Wager (1992) menyebutkan sembilan urutan kegiatan instruksional yang didasarkan pada karakteristik masing-masing peserta didik dan jenis perilaku yang ada pada tujuan instruksional.

Para ahli sepakat mengenai empat pengertian strategi instruksional, sebagai berikut:
  1. Urutan kegiatan instruksional, yaitu urutan kegiatan pembelajar dalam menyampaikan isi pelajaran kepada peserta didik;
  2. Metode instruksional, yaitu cara pembelajar mengorganisasikan materi pelajaran agar terjadi proses belajar secara efektif dan efisien pada peserta didik;
  3. Media instruksional, yaitu peralatan dan bahan instruksional ang digunakan oleh pembelajar dan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran;
  4. Waktu yang digunakan oleh pembelajar dan peserta didik dalam menyelesaikan setiap langkah dalam kegiatan instruksional.
Dengan demikian strategi instruksional merupakan perpaduan dari urutan kegiatan, cara pengorganisasian materi pelajaran, peserta didik, peralatan dan bahan serta waktu yang digunakan dalam proses instruksional untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditetapkan.
Dalam strategi pembelajaran, strategi pengorganisasian isi pengajaran disebut oleh Reigeluth, Bunderson, dan Meriil (1997) sebagai struktural strategi, yang mengacu pada cara untuk membuat urutan (sequencing) dan mensintesis (syintesizing) fakta, konsep, prosedur dan prinsip yang berkaitan.

Pengorganisasian pengajaran secara khusus, merupakan fase yang amat penting dalam rancangan pengajaran. Synthesizing akan membuat topik-topik dalam suatu bidang studi menjadi lebih bermakna pada siswa (Ausubel, 1986), yaitu dengan menunjukkan bagaimana topik-topik itu terkait dengan keseluruhan isi bidang studi. Kebermaknaan ini akan menyebabkan siswa memiliki retensi yang lebih baik dan lebih lama terhadap topik-topik yang dipelajari. Squencing, atau penataan urutan, juga penting, karena amat diperlukan dalam pembuatan sintesis. Sintesis yang efektif hanya dapat dibuat bila isi telah ditata dengan cara tertentu, dan yang lebih penting, karena pada hakikatnya, semua isi bidang studi memiliki prasyaratan belajar (Gagne, 1968, 1977a, 1977c).

Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan

Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan

Pengertian dari Ruang lingkup adalah Batasan. Ruang lingkup juga dapat dikemukakan pada bagian variabel-variabel yang diteliti, populasi atau subjek penelitian, dan lokasi penelitian. Penggambaran ruang lingkup dapat kita nilai dari data karakteristik responden perlu dilakukan untuk memperoleh gambaran yang komprehensif tentang bagaimana keadaan responden penelitian kita, yang boleh jadi diperlukan untuk melihat data hasil pengukuran variabel-variabel yang diteliti. Lalu, apa aja sih ruang lingkup kesehatan lingkungan?
Menurut WHO ruang lingkup kesehatan dibagi menjadi tujuh belas, yaitu:
  1. Penyediaan air minum
  2. Pengelolaan air buangan dan pengendalian pencemaran
  3. Pembuangan sampah padat
  4. Pengendalian vektor. (pengendalian vektor ialah segala macam usaha yang dilakukan untuk menurunkan atau mengurangi populasi vektor dengan maksud mencegah atau memberantas penyakit yang ditularkan vektor atau gangguan yang diakibatkan vektor.)
  5. Pencegahan atau pengendalian pencemaran tanah oleh eksreta manusia. (yang dimaksud ekskreta adalah seluruh zat yang tidak dipakai lagi oleh tubuh dan yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh)
  6. Higiene makanan termasuk juga susu
  7. Pengendalian pencemaran udara
  8. Pengendalian radiasi
  9. Kesehatan kerja
  10. Pengendalian kebisingan
  11. Perumahan dan pemukiman
  12. Aspek kesling dan transportasi udara
  13. Perencanaan daerah dan perkotaan.
  14. Pencegahan kecelakaan
  15. Rekreasi umum dan pariwisata
  16. Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemik atau wabah, bencan alam dan migrasi penduduk.
  17. Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan.


Referensi:

Pengertian Kesehatan Lingkungan

Pengertian Kesehatan Lingkungan
Kesehatan lingkungan merupakan suatu disiplin ilmu dan seni untuk memperoleh keseimbangan antara lingkungan dengan manusia, dan juga merupakan ilmu dan seni mengelola lingkungan agar bisa menciptakan kondisi lingkungan yang bersih, sehat, nyaman dan aman serta terhindar dari berbagai macam penyakit. Sedangkan ilmu kesehatan lingkungan merupakan ilmu yang mempelajari hubungan suatu kelompok penduduk dengan berbagai macam perubahan yang terjadi dilingkungan mereka tinggal yang berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat umum.
Ilmu Kesehatan Lingkungan mempelajari dinamika hubungan interaktif antara kelompok penduduk dengan berbagai macam perubahan komponen lingkungan hidup yang menimbulkan ancaman/berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat umum.
Pengertian kesehatian menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut:

  • Slamet Riyadi: ilmu kesehatan lingkungan ialah bagian integral dari ilmu kesehatan masyarakat yang khusus mempelajari dan menangani tentang hubungan manusia dengan lingkungannya untuk mencapai keseimbangan ekologi dan bertujuan untuk membina dan meningkatkan derajat maupun kehidupan sehat yang optimal.
  • WHO (World Health Organization): kesehatan lingkungan ialah suatu keseimbangan ekologi yang harus tercipta diantara manusia dengan lingkungannya agar bisa menjamin keadaan sehat dari manusia.
  • HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia): kesehatan lingkungan ialah suatu kondisi lingkungan yang dapat menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dengan lingkungannya untuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat dan bahagia.
  • Lalu menurut H.J. Mukono : Ilmu Kesehatan Lingkungan merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara faktor kesehatan dan faktor lingkungan.

Manfaat Jus Mangga

Manfaat Jus Mangga
Siapa sih yang tidak kenal dengan buah mangga? Buah yang dianggap sebagai salah satu buah yang nikmat dan enak ini banyak ditemukan di negara Indonesia, karena pohon mangga merupakan tanaman yang dapat tumbuh subur pada daerah beriklim tropis. Karena merupakan jenis buah musiman yang hanya ada dan berbuah pada saat tertentu saja, mangga menjadi buah yang dirindukan kehadirannya oleh para penggemarnya. Selain dapat dikonsumsi secara langsung, buah mangga juga dapat diolah menjadi sejumlah hidangan yang nikmat seperti jus mangga, puding mangga, salad buah, smoothie, campuran rujak buah dan hasil olahan lainnya. Dengan demikian, penggemar buah mangga tidak akan merasa bosan ketika mengkonsumsinya.
Namun, hasil olahan mangga yang biasa dikonsumsi yaitu jus mangga segar. Pasalnya, mengkonsumsi jus mangga merupakan cara yang praktis dan cepat bagi orang yang tidak mempunyai banyak waktu untuk mengkonsumsinya secara langsung. Dengan mengkonsumsi buah mangga dalam olahan jus, tubuh akan lebih cepat menyerap kandungan nutrisi di dalamnya. Dikarenakan, tubuh tak perlu bekerja keras untuk menyerap nutrisi dalam bentuk cairan.
Sama seperti buah jeruk, mangga juga terkenal akan kandungan vitamin C yang dimilikinya. Tak hanya vitamin C, mangga juga mempunyai kandungan nutrisi lainnya seperti vitamin A, vitamin B kompleks, vitamin E, kalium, zat besi, serat, karbohidrat, antioksidan, asam folat dan masih banyak kandungan nutrisi lainnya. Sebelumnya, telah dijelaskan bahwa semua nutrisi yang terdapat di dalam buah mangga akan mudah terserap oleh tubuh jika dikonsumsi dalam bentuk cairan, yaitu dalam olahan jus mangga segar.
Sebagai informasi pelengkap, pada artikel ini juga akan diulas informasi mengenai manfaat jus mangga. Sesuai dengan apa yang dikutip dari situs manfaatbuahalami.com, adapun manfaat jus mangga yang perlu diketahui adalah sebagai berikut :
10 Manfaat Jus Mangga
  1. Mengatasi Penyakit Kanker
Sama seperti buah-buahan lainnya, mangga juga merupakan buah yang mempunyai kandungan antioksidan tinggi. Tak hanya kandungan antioksidan, semua senyawa yang terdapat di dalamnya juga ramah dengan usus organ-organ tubuh serta dapat mengatasi penyakit kanker, seperti kanker darah, kanker payudara, kanker prostat dan kanker usus besar.
  1. Menjaga Performa Kardio Tubuh
Mengkonsumsi jus mangga secara rutin berkhasiat untuk menjaga performa kardio tubuh, sehingga tubuh menjadi lebih sehat dan dapat membantu proses penyerapan nutrisi dengan lebih baik.
  1. Menstabilkan Kadar Gula pada Tubuh
Kandungan serat pangan dan gula alami yang terdapat di dalam jus mangga sangat aman untuk dikonsumsi penderita penyakit diabetes.
  1. Mencegah dan Mengatasi Anemia
Di dalam jus mangga terdapat kandungan zat besi yang cukup banyak. Dengan mengkonsumsi jus mangga secara rutin dapat mencegah dan mengatasi penyakit anemia karena kandungan zat besi di dalamnya berfungsi untuk memproduksi sel-sel darah merah.
  1. Melancarkan Sistem Pencernaan
Kandungan serat pangan yang terdapat di dalamnya mempunyai kemampuan untuk melancarkan sistem pencernaan serta dapat menyehatkan organ-organ pencernaan, sehingga tubuh terbebas dari masalah gangguan pencernaan seperti sembelit, wasir dan susah buang air besar.
  1. Menjaga Kesehatan Mata
Jus mangga memiliki kandungan vitamin A yang terbukti baik untuk menjaga kesehatan mata, sehingga mata akan menjadi segar, penglihatan menjadi tajam dan terhindar dari gangguan penyakit mata.
  1. Menjaga Kesehatan Kulit
Kandungan vitamin C dan vitamin E yang terdapat di dalam jus mangga mempunyai kemampuan untuk menjaga kesehatan kulit untuk kulit yang lebih sehat, halus, lembab, cerah dan kencang.
  1. Menurunkan Kadar Kolesterol Jahat
Semua kandungan nutrisi dan senyawa yang ada di dalam jus mangga berfungsi untuk menurunkan kadar kolesterol jahat di dalam darah sehingga terhindar dari resiko terkena hipertensi, penyakit jantung dan stroke.
  1. Menambah Energi
Apabila merasa lemas dan lelah saat beraktivitas sebaiknya konsumsilah jus mangga karena di dalamnya terdapat kandungan karbohidrat kompleks yang berguna untuk menambah energi yang diperlukan oleh tubuh saat beraktivitas.
  1. Menyehatkan Otak dan Tubuh
Manfaat jus mangga lainnya adalah dapat membuat tubuh menjadi lebih sehat serta kandungan asam folat di dalamnya mempunyai kemampuan untuk menyehatkan otak dan dapat meningkatkan kinerja otak.
Referensi :
manfaatbuahalami.com/2015/08/manfaat-jus-mangga-untuk-kesehatan.html


Kamis, 29 Desember 2016

Budaya Kemiskinan Di Indonesia

Budaya Kemiskinan Di Indonesia

Menurut Lewis (1983), budaya kemiskinan dapat terwujud dalam berbagai konteks sejarah, namun lebih cenderung untuk tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat yang memiliki seperangkat kondisi:
1. Sistem ekonomi uang, buruh upah dan sistem produksi untuk  keuntungan
2. Tetap  tingginya tingkat pengangguran dan setengah pengangguran bagi
3. Tenaga tak terampil
4. Rendahnya upah buruh
5. Tidak berhasilnya golongan berpenghasilan rendah meningkatkan organisiasi        sosial, ekonomi dan politiknya secara sukarela maupun atas prakarsa pemerintah
6. Sistem keluarga bilateral lebih menonjol daripada sistem unilateral, dan
7. Kuatnya seperangkat nilai-nilai pada kelas yang berkuasa yang menekankan penumpukan harta kekayaan dan adanya kemungkinan mobilitas vertikal, dan sikap hemat, serta adanya anggapan bahwa rendahnya status ekonomi sebagai hasil ketidaksanggupan pribadi atau memang pada dasarnya sudah rendah kedudukannya.

Budaya kemiskinan bukanlah hanya merupakan adaptasi terhadap seperangkat syarat-syarat obyektif dari masyarakat yang lebih luas, sekali budaya tersebut sudah tumbuh, ia cendrung melanggengkan dirinya dari generasi ke generasi melaui pengaruhnya terhadap anak-anak. Budaya kemiskinan cendrung berkembang bila sistem-sistem ekonomi dan sosial yang berlapis-lapis rusak atau berganti, Budaya kemiskinan juga merupakan akibat penjajahan yakni struktur ekonomi dan sosial pribumi didobrak, sedangkan status golongan pribumi tetap dipertahankan rendah, juga dapat tumbuh dalam proses penghapusan suku. Budaya kemiskinan cendrung dimiliki oleh masyarakat serta sosial yang lebih rendah, masyarakat terasing, dan warga korban yang berasal dari buruh tani yang tidak memiliki tanah.

Kemiskinan menjadi faktor terbesar kesenjangan sosial yang menjadi momok dalam kehidupan masyarakat. Saat melihat berita pagi ini tentang kemewahan sebuah penjara para pejabat dan koruptor-koruptor, serta orang-orang memiliki banyak uang, sungguh membuat saya cukup terkejut. Bagaimana tidak? Penjara yang seharusnya menjadi tempat hukuman bagi mereka yang bersalah, serta menjadi tempat untuk merenungi kesalahannya, dijadikan tempat tinggal yang mewah, layaknya sebuah hotel berbintang 5 atau bahkan sebuah apartemen mewah. Hal ini sungguh ironi. Disaat rakyat negeri ini masih berjuang agar kemiskinan di negeri kita bisa lebih menyusut, para lakon di atas malahan hidup bermewah-mewahan di dalam penjara. Sebagai contoh, seorang pencuri ayam atau jemuran akan mendapatkan hukuman dari masyarakat, yaitu dengan dipukuli beramai-ramai, sementara saat masuk penjara, mereka juga mendapatkan siksaan dari para sipir penjara. Namun, seorang koruptor yang mencuri miliaran rupiah uang negara, bisa hidup bermewah-mewahan serta mendapatkan pelayanan khusus yang cukup istimewa dari pihak penjara tersebut. Apalagi kalau bukan uang yang menjadi hal yang paling utama? Bagi mereka, uang bisa membeli apapun. Bahkan bisa membeli hukum sekalipun. Namun, bagi rakyat kecil yang tidak memiliki uang, mereka hanya bisa pasrah menerima hukuman          yang    diterimanya. Kesenjangan sosial seperti inilah yang selalu menjadi momok dan juga penyakit di negara kita ini.
Menurut Parker Seymour dan Robert J. Kleiner (1983) formulasi kebudayaan kemiskinan mencakup pengertian bahwa semua orang yang terlibat dalam situasi tersebut memiliki aspirasi-aspirasi yang rendah sebagai salah satu bentuk adaptasi yang realistis.
Beberapa ciri kebudayaan kemiskinan adalah :
1. Fatalisme,
2. Rendahnya tingkat aspirasi.
3. Rendahnya kemauan mengejar sasaran,
4. Kurang melihat kemajuan pribadi
5. Perasaan ketidakberdayaan/ketidakmampuan
6. Perasaan untuk selalu gagal
7. Perasaan menilai diri sendiri negatif
8. Pilihan sebagai posisi pekerja kasar     dan
9. Tingkat kompromis yang menyedihkan.

Berkaitan dengan budaya sebagai fungsi adaptasi, maka suatu usaha yangsungguh-sungguh untuk mengubah nilai-nilai yang tidak diinginkan ini menuju ke arah yang sesuai dengan nilai-nilai golongan kelas menengah, dengan menggunakan metode-metode psikiater kesejahteraan sosial-pendidikan tanpa lebih dahulu (ataupun secara bersamaan) berusaha untuk secara berarti mengubah kenyataan kenyataan struktur sosial (pendapatan, pekerjaan, perumahan, dan pola-pola kebudayaan membatasi lingkup partisipasi sosial dan peyaluran kekuatan sosial) akan cendrung gagal. Budaya kemiskinan bukannya berasal dari kebodohan, melainkan justru berfungsi bagi penyesuaian diri.

Kemiskinan struktural menurut Selo Sumarjan (1980) adalah kemiskinan yang diderita oleh suatu golongan masyarakat karena struktur sosial masyarakat itu tidak dapat ikut menggunakan sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka. Kemiskinan strukturl adalah suasana kemiskinan yang dialami oleh suatu masyarakat yang penyebab utamanya bersumber pada struktur sosial, dan oleh karena itu dapat dicari pada struktur sosial yang berlaku dalam masyarakat itu sendiri.

Kemiskian memang bukan hanya menjadi masalah di Negara Indonesia, bahkan Negara majupun masih sibuk mengentaskan masalah yang satu ini. Kemiskinan memang selayaknya tidak diperdebatkan tetapi diselesaikan. Akan tetapi kami yakin : du chocs des opinion jaillit la verite.  Dengan benturan sebuah opini maka akan munculah suatu kebenaran . Dengan kebenaran maka keadilan ditegakkan, dan apabila keadilan ditegakkan kesejateraan bukan lagi menjadi sebuah impian akan tetapi akan menjadi sebuah kenyataan.

Kemiskinan adalah penyebab utama terjadinya kesenjangan sosial di masyarakat. Banyak orang menganggap bahwa kemiskinan adalah suatu suratan takdir atau mereka mereka miskin karena malas, tidak kreatif, dan tidak punya etos kerja. Inti kemiskinan terletak pada kondisi yang disebut perangkap kemiskinan. Perangkap itu terdiri dari :
1. Kemiskinan itu sendiri
2. Kelemahan fisik
3. Keterasingan atau kadar isolasi
4. Kerentaan
5. Ketidakberdayaan

Cari Kerja Susah, Euy

Cari Kerja Susah, Euy

Lapangan pekerjaan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam perekonomian masyarakat, sedangkan perekonomian menjadi faktor terjadinya kesenjangan sosial. Sempitnya lapangan pekerjaan di Indonesia menjadikan pengangguran yang sangat besar di Indonesia dan menyebabkan perekonomian masyarakat bawah semakin rapuh. Salah satu karakteristik tenaga kerja di Indonesia adalah laju pertumbuhan tenaga kerja lebih tinggi ketimbang laju pertumbuhan lapangan kerja. Berbeda dengan negara-negara di Eropa dan Amerika, dimana lapangan pekerjaan masih berlebih. Faktor-faktor penyebab pengangguran di Indonesia:
1. Kurangnya sumber daya manusia pencipta lapangan kerja
2.Kelebihan penduduk/pencari kerja
3.Kurangnya jalinan komunikasi antara si pencari kerja dengan pengusaha
4. Kurangnya pendidikan untuk pewirausaha

         Kesenjangan sosial semakin hari semakin memprihatinkan, khususnya di lingkungan perkotaan. Memang benar jika dikatakan bahwa yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Di zaman sekarang ini, untuk mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah. Gelar sarjana sekalipun, masih banyak yang belum memiliki pekerjaan. Kini untuk melamar kerja pun calon tenaga kerja harus membayar uang pendaftaran. Lalu bagaimana yang tidak memiliki modal uang? Iya di sinilah adanya kesenjangan dalam mencari pekerjaan. Calon tenaga kerja harus saling sikut menyikut untuk memperebutkan posisi pekerjaan. Di sinilah masalahnya, mereka yang lemah akan tertindas dengan yang kuat, mereka tidak mendapat kesempatan untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Makanya di Indonesia masih banyak pekerja jalanan, iya speerti pedagang asongan, pengamen, bahkan pengemis. Hal ini jelas-jelas mencederai rasa keadilan serta bertolak belakang dengan kebersamaan dan kesetaraan sosial.

Akibat dari semakin kurangnya lapangan pekerjaan  adalah:
1. Melemahnya wirausaha
Kesenjangan sosial menjadi penghancur minat ingin memulai usaha, penghancur keinginan untuk terus mempertahankan usaha, bahkan penghancur semangat untuk mengembangkan usaha untuk lebih maju. Hali ini dikarenakan seorang wirausaha selalu dianggap remeh.
2. Terjadi kriminalitas
Karena masalah kesenjangan sosial banyak rakyat miskin yang terpaksa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, seperti mencopet, mencuri, judi, dll.
3. Banyaknya pengemis atau peminta-minta
Karena sudah tidak adanya lapangan pekerjaan sehingga makin menjamurnya para pengemis dan peminta-minta di jalanan maupun di persimpangan jalan karena cara ini dianggap sangat praktis, cepat dapat uang dan tidak menanggung resiko.

Rabu, 28 Desember 2016

Debus: Kesenian Tradisional Masyarakat Banten

Debus: Kesenian Tradisional Masyarakat Banten

Banten adalah salah satu provinsi yang ada di Indonesia dan sekaligus nama suku bangsa asal yang terdapat di provinsi tersebut. Sebagian orang berpendapat bahwa orang Banten adalah orang Sunda juga, karena kebudayaan yang ditumbuhkembangkan oleh mereka pada umumnya sama dengan orang Sunda. Dalam kebahasaan misalnya, orang Banten menggunakan bahasa yang mereka sebut sebagai "Sunda-Banten", yaitu bahasa yang menunjukkan beberapa perbedaan dibandingkan dengan bahasa Sunda yang lain, terutama dalam intonasinya. Lepas dari masalah kesamaan dan perbedaan kebudayaan yang ditumbuhkembangkan oleh orang Sunda dan orang Banten itu, yang jelas bahwa Banten adalah sebuah suku bangsa yang ada di Provinsi Banten (Melalatoa, 1995).
 Sebagaimana masyarakat suku bangsa lainnya di Indonesia, orang Banten juga mempunyai berbagai jenis kesenian tradisional. Salah satu diantaranya yang kemudian yang kemudian menjadi label masyarakat Banten adalah debus. Artinya, jika seseorang mendengar kata "debus", maka yang terlintas dalam benaknya adalah "Banten".
 Konon, kesenian yang disebut sebagai debus ada hubungannya dengan tarikat Rifaiah yang dibawa oleh Nurrudin Ar-Raniry ke Aceh pada abad ke-16. Para pengikut tarikat ini ketika sedang dalam kondisi epiphany (kegembiraan yang tak terhingga karena "bertatap muka" dengan Tuhan), kerap menghantamkan berbagai benda tajam ke tubuh mereka. Filosofi yang mereka gunakan adalah "lau haula walla Quwata ilabillahil 'aliyyil adhim" atau tiada daya upaya melainkan karena Allah semata. Jadi, kalau Allah mengizinkan, maka pisau, golok, parang atau peluru sekalipun tidak akan melukai mereka.
 Di Banten pada awalnya kesenian ini berfungsi untuk menyebarkan ajaran Islam. Namun, pada masa penjajahan Belanda dan pada saat pemerintahan Sultan Agung Tirtayasa, seni ini digunakan untuk membangkitkan semangat pejuang dan rakyat Banten untuk melawan Belanda. Dewasa ini, seiring dengan perkembangan zaman, kesenian ini hanya berfungsi sebagai sarana hiburan semata.
 Pemain Para pemain debus terdiri dari seorang syeh (pemimpin permainan), beberapa orang pezikir, pemain, dan penabuh gendang. 1-2 minggu sebelum diadakannya pertunjukan debus biasanya para pemain akan melaksanakan pantangan-pantangan tertentu agar selamat ketika melakukan pertunjukan, yaitu: (1) tidak boleh minum-minuman keras; (2) tidak boleh berjudi; (3) tidak boleh mencuri; (4) tidak boleh tidur dengan isteri atau perempuan lain; dan lain sebagainya. Tempat dan Peralatan Permainan
 Permainan debus biasanya dilakukan di halaman rumah pada saat diadakannya acara-acara lain yang melibatkan banyak orang. Peralatan yang digunakan dalam permainan adalah: (1) debus dengan gada-nya (2) golok yang digunakan untuk mengiris tubuh pemain debus; (3) pisau juga digunakan untuk mengiris tubuh pemain; (4) bola lampu yang akan dikunyah atau dimakan (sama seperti permainan kuda lumping di Jawa Tengah dan Timur; (5) panci yang digunakan untuk menggoreng telur di atas kepala pemain; (6) buah kelapa ; (7) minyak tanah dan lain sebagainya. Sementara alat musik pengiringnya antara lain: (1) gendang besar; (2) gendang kecil; (3) rebana; (4) seruling; dan (5) kecrek.
 Jalannya Permainan Permainan debus pada umumnya diawali dengan mengumandangkan beberapa lagu tradisional (sebagai lagu pembuka atau "gembung"). Setelah gembung berakhir, maka dilanjutkan dengan pembacaan zikir dan belum atau macapat yang berisi puji-pujian kepada Allah Swt dan Nabi Muhammad Saw. Tujuannya adalah agar mendapat keselamatan selama mempertunjukkan debus. Setelah zikir dan macapat selesai, maka dilanjutkan dengan permainan pencak silat yang diperagakan oleh satu atau dua pemain tanpa menggunakan senjata tajam.
 Kegiatan selanjutnya adalah permainan debus itu sendiri yang berupa berbagai macam atraksi, seperti: menusuk perut dengan menggunakan debus; mengupas buah kelapa dan memecahkannya dengan cara dibenturkan ke kepala sendiri; memotong buah kelapa dan membakarnya di atas kepala; menggoreng telur dan kerupuk di atas kepala; menyayat tubuh dengan sejata tajam seperti golok dan pisau; membakar tubuh dengan minyak tanah atau berjalan-jalan di atas bara api; memakan kaca dan atau bola lampu; memanjat tangga yang anak tangganya adalah mata golok-golok tajam dengan bertelanjang kaki; dan menyiram tubuh dengan air keras.
 Sebagai tambahan, pada atraksi penusukan perut dengan menggunakan debus, seorang pemain memegang debus, kemudian ujungnya yang runcing ditempelkan ke perut pemain lainnya. Setelah itu, seorang pemain lain akan memegang kayu pemukul yang disebut gada dan memukul bagian pangkal debus berkali-kali. Apabila terjadi "kecelakaan" yang mengakibatkan pemain terluka, maka Syeh akan menyembuhkannya dengan mengusap bagian tubuh yang terluka disertai dengan membaca mantra-mantra, sehingga luka tersebut dalam dapat sembuh seketika. Kemudian, ketika atraksi penyayatan tubuh dengan sejata tajam seperti golok dan pisau, pemain akan menusukkan senjata tersebut ke beberapa bagian tubuhnya seperti:: leher, perut, tangan, lengan, dan paha. Namun, melakukannya, ia mengucapkan mantra-mantra agar tubuhnya kebal dari senjata tajam. Salah satu contoh mantranya adalah: "Haram kau sentuh kulitku, haram kau minum darahku, haram kau makan dagingku, urat kawang, tulang wesi, kulit baja, aku keluar dari rahim ibunda. Aku mengucapkan kalimat la ilaha illahu". Dan, ketika atraksi pemakanan kaca dan atau bola lampu, yang dimuntahkan bukannya serpihan kaca melainkan puluhan ekor kelelawar hidup.
 Nilai Budaya Permainan debus yang dilakukan oleh masyarakat Banten, jika dicermati secara mendalam, maka di dalamnya mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan bersama dan bekal kehidupan di kemudian hari. Nilai-nilai itu antara lain kerja sama, kerja keras, dan religius.
 Nilai kerja sama tercermin dalam usaha para pemain yang saling bahu-membahu dalam menunjukkan atraksi-atraksi debus kepada para penonton. Nilai kerja keras tercermin dalam usaha pemain untuk dapat memainkan debus. Dalam hal ini seseorang yang ingin memainkan debus harus berlatih secara terus menerus sambil menjalankan syarat-syarat dan pantangan-pantangan tertentu agar ilmu debusnya menjadi sempurna. Dan, nilai religius tercermin dalam doa-doa yang dipanjatkan oleh para pemain. Doa-doa tersebut dibacakan dengan tujuan agar para pemain selalu dilindungi dan mendapat keselamatan dari Allah SWT selama menyelenggarakan permainan debus