Jumat, 30 Desember 2016

Wisata? Ke bekasi yuk!

Wisata? Ke bekasi yuk!

Sebagai salah satu kota penyanggah ibu kota, Bekasi menjadi lokasi dibangunnya banyak kawasan hunian dan industri. Di tengah padatnya bangunan khas perkotaan, terdapat 10 tempat wisata di Bekasi yang tak kalah dengan kota lain. Berikut rangkumannya:
1 . Taman Buaya Indonesia Jaya
Taman Buaya Indonesia Jaya
Taman Buaya Indonesia Jaya
Ini adalah tempat wisata di bekasi yang tak boleh dilewatkan pecinta buaya. Taman Buaya Indonesia Jaya merupakan tempat penangkaran buaya yang berada di Jalan Raya Serang Cibarusah, Desa Sukaragam. Sebelum masuk, Anda akan disambut dengan sebuah patung buaya besar di halaman depan tempat penangkaran buaya ini.
Tempat wisata yang dibangun pada tahun 1990 ini memiliki 5 kolam besar yang mampu menampung masing-masing 100 ekor buaya. Kolam-kolam ini dibatasi dengan pagar besi setinggi 1,5 meter demi keamanan pengunjung. Tak hanya kolam penampungan buaya dewasa, di tempat penangkaran ini juga terdapat ruang penetasan telur buaya dan kolam kecil untuk bayi buaya. Selain buaya, Anda juga bisa menemukan kandang monyet di sini.
Yang menarik, Anda bisa menyaksikan pertunjukan debus Banten di mana pemainnya melawan buaya dan ular buas di sini. Pertunjukan ini diadakan setiap hari Minggu dan hari libur lainnya dua kali dalam sehari, yaitu pada pukul 11:00 dan 14:00. Jika melewatkan pertunjukan debus, Anda masih bisa menikmati tempat wisata di Bekasi ini dengan memetik buah sawo sepuasnya langsung dari pohonnya di sini.
Di tempat wisata ini, terdapat area bermain anak-anak mulai dari jungkat-jungkit, ayunan sampai dengan papan seluncur. Selagi mengawasi anak-anak bermain, Anda bisa duduk santai di gazebo-gazebo yang telah disediakan.
Untuk masuk ke tempat wisata di Bekasi ini, Anda perlu membayar tiket masuk 20.000 Rupiah untuk satu orang dewasa dan 10.000 Rupiah untuk satu orang anak.
2. Waterboom Lippo Cikarang
Waterboom Lippo Cikarang
Waterboom Lippo Cikarang
Jika liburan ke Bali terlalu jauh untuk Anda, kenapa tak pergi ke Waterboom Lippo Cikarang saja? Masuk ke kawasan taman bermain air ini, Anda akan merasa sedang berada di Bali. Tempat wisata di Bekasi ini memang didesain mirip sekali dengan suasana Pulau Dewata tersebut. Di sini, Anda bisa melihat saung-saung yang dihiasi kain hitam-putih khas Bali, bunga kamboja di sekitar kolam dan patung-patung yang terbuat batu. Selain itu, Anda juga bisa mendengar alunan gending Bali selama berada di sini.
Tempat wisata ini menawarkan wahana permainan air yang lengkap mulai dari kolam dewasa sedalam 1,5 meter, kolam untuk anak-anak sampai dengan kolam arus. Kolam dewasa dilengkapi dengan jaring untuk bermain voli air dan papan seluncur air yang menantang adrenalin. Untuk kolam anak-anak, ada miniatur perahu dan papan seluncur mini yang tak kalah seru.
Haus dan lapar saat berenang tapi malas beranjak dari kolam? Tenang. Ada Juice Stasion di salah satu bagian kolam sehingga Anda bisa membeli jus sambil tetap berada di dalam air. Hmm, asyik ya! Selain Juice Station ini, masih ada banyak fasilitas lain seperti foodcourt, kolam terapi ikan dan spa. Ada juga paket outbound dan eco-friendly untuk rombongan.
Harga tiket masuk tempat wisata ini adalah 55.000 Rupiah untuk hari Senin – Jumat dan 85.000 Rupiah untuk hari Sabtu – Minggu dan hari libur nasional. Waterboom Lippo Cikarang buka mulai pukul 10:00 sampai 18:00 setiap harinya.
3. Klenteng Hok Lay Kiong
Klenteng Hok Lay Kiong
Klenteng Hok Lay Kiong
Klenteng Hok Lay Kiong merupakan salah satu klenteng tertua di Bekasi. Tak ada yang tahu pasti kapan tepatnya klenteng yang berada di Jalan Kenari, Margahayu, ini dibangun, namun diperkirakan klenteng ini sudah berdiri sejak 300 – 400 tahun yang lalu. Tak berbeda dengan kebanyakan klenteng, di sini warna merah masih mendominasi bangunan dan segala ornamennya.
Meskipun telah beberapa kali direnovasi, namun beberapa bagian dari klenteng seluas 650 meter persegi ini masih asli seperti pintu, patung dewa, altar dan tiang penyanggah. Selain menjadi tempat sembahyang untuk umat Kong Hu Cu, Buddha dan Taoisme, klenteng ini juga menjadi salah satu tempat wisata di Bekasi yang banyak dikunjungi.
Di altar utama berdiri patung Dewa Hok Lay Kiong, tak jauh dari dari altar ini, masih ada beberapa patung dewa lainnya seperti patung Dewi Kwan Im. Dewi kasih sayang ini menjadi tempat berdoa bagi orang-orang yang ingin didekatkan jodohnya. Untuk kelancaran rezeki, orang-orang akan berdoa di hadapan patung Dewa Tjay Sen Loya.
Jika ingin menikmati suasana yang berbeda dengan hari lainnya, cobalah datang pada saat perayaan imlek. Saat itu, biasa dilakukan upacara penyucian patung dewa dan karnaval barongsai. Ada juga ritual Tabur Sial, di mana dilakukan pelarungan kertas berisi harapan ke Sungai Bekasi dan pelepasan kura-kura.
4. Gedung Juang 45
Gedung Juang 45
Gedung Juang 45
Gedung Juang 45 atau yang disebut juga dengan Gedung Tinggi ini bisa menjadi pilihan bagi Anda yang menyukai wisata sejarah. Tempat wisata di Bekasi ini menjadi saksi perjuangan rakyat Bekasi melawan penjajah. Di tempat ini pula banyak terjadi perundingan atas tukar tawanan antara pejuang dan penjajah.
Gedung ini dibangun dalam dua tahap yaitu pada tahun 1906 dan 1925. Arsitektur khas Eropa terlihat di gedung ini sama seperti peninggalan Belanda lainnya, yang paling terlihat adalah banyaknya tiang penyanggah berukuran besar dan bermotif bunga. Gedung Juang 45 sebenarnya merupakan salah satu dari lima unit bangunan di kompleks ini. Gedung utama ini terdiri dari dua lantai dengan empat kamar di lantai 1. Untuk menuju lantai 2, terdapat dua tangga.
Gedung Juang 45 tak sepenuhnya menjadi tempat wisata karena saat ini digunakan sebagai gedung perkantoran pemerintah kabupaten Bekasi. Meskipun demikian, Anda masih bisa berkunjung untuk melihat arsitektur Eropa kuno sekaligus mengenang masa perjuangan rakyat Bekasi. Sebelumnya, gedung ini juga telah berkali-kali beralih fungsi mulai dari gedung perkuliahan, markas TNI sampai dengan kantor legium veteran.
Bangunan ini berdiri di atas tanah seluas 1.000 meter persegi dan berada sekitar 100 meter dari Stasiun Tambun, atau tepatnya di Jalan Sultan Hasanuddin 5, Tambun, Bekasi.
5. Saung Ranggon
Saung Ranggon
Saung Ranggon
Saung Ranggon merupakan sebuah rumah panggung kuno yang berada di Desa Cikedokan, Cikarang Barat. Saung ini berukuran 7,6 x 7,2 meter dengan tinggi lantai 2,5 lantai dari atas tanah. Terdapat tujuh buah anak tangga untuk naik ke lantai utama. Bagian dalam saung merupakan ruangan luas tanpa sekat ataupun jendela.
Tempat wisata di Bekasi ini dibangun pada abad ke-16 oleh Pangeran Rangga yang merupakan anak dari Pangeran Jayakarta. Pangeran Rangga membangun saung ini sebagai tempat persembunyian saat lari dari kejaran Belanda. Saung Ranggon baru ditemukan pada tahun 1821 oleh Raden Abbas. Meskipun telah mengalami renovasi beberapa kali, namun bangunan dan ornamennya sebagian besar masih asli.
Selain menjadi tempat wisata, Saung Ranggon juga digunakan sebagai tempat ‘mencari berkah’ oleh banyak orang dengan membawa sesajen.
6. Danau Cibeureum
Danau Cibeureum
Danau Cibeureum
Tempat wisata di Bekasi ini menjadi lokasi favorit bagi komunitas pesepeda sekitar. Pada akhir pekan, kawasan Danau Cibeureum akan ramai didatangi oleh pesepeda dari segala penjuru Bekasi. Mereka biasa bergerombol di warung makan yang ada di sekitar danau.
Danau seluas 2 hektar ini memiliki sebuah pulau kecil di tengahnya yang ditumbuhi sebuah pohon besar. Pulau di tengah danau ini menjadi objek foto favorit para pengunjung. Selain hunting foto, Anda juga bisa memasang tenda atau menggelar tikar untuk piknik bersama keluarga. Fasilitas di danau sudah lumayan lengkap mulai dari toilet, warung makan, toko suvenir sampai bangku-bangku yang menghadap ke danau.
Secara administratif, danau ini berada di dua desa yaitu Desa Lambang Sari dan Desa Lambang Jaya, Kecamatan Tambun, Bekasi.
7. Pantai Muara Beting
Pantai Muara Beting
Pantai Muara Beting
Pantai Muara Beting memiliki pasir putih kecoklatan yang landai. Selain pantai, di kawasan ini juga terdapat cagar alam yang terdiri dari hutan bakau dan beberapa satwa seperti lutung hitam dan buaya rawa. Saat yang tepat untuk datang ke tempat wisata di Bekasi ini adalah antara bulan September – Februari. Pada bulan-bulan tersebut, sedang terjadi migrasi burung dari kawasan Pasifik ke daratan Cina dan singgah sementara di cagar alam ini.
Pantai Muara Beting terletak di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, atau sekitar 2 jam perjalanan dari pusat kota Bekasi
8. Wisata Rumah Pohon
Wisata Rumah Pohon
Wisata Rumah Pohon
Wisata Rumah Pohon cocok sekali jika Anda kunjungi bersama anak-anak. tempat wisata ini menawarkan rekreasi alam untuk anak-anak dewasa. Berbagai permainan outbound bisa Anda dan keluarga lakukan di sini, mulai dari flying fox, wall climbing, paintball sampai kolam tangkap ikan dan arena balita.
Tempat wisata di Bekasi ini sangat asri dengan adanya banyak pepohonan rindang di lokasi. Sebagai tempat wisata alam, di sini Anda harus menjaga kesegaran udara sehingga bagi pengunjung yang ingin merokok telah disediakan ruang khusus agar tidak mengganggu pengunjung yang lain.
Wisata Rumah Pohon terletak di Jalan Raya Parpostel, Jatiasih, Bekasi. Untuk fasilitas pendukung, di tempat wisata ini sudah tersedia mushola, toilet dan foodcourt.
9. Hutan Kota
Hutan Kota
Hutan Kota
Bekasi yang dikenal dengan kawasan pemukiman dan industrinya ini ternyata memiliki sebuah hutan kota yang nyaman untuk dikunjungi saat akhir pekan. Tempat wisata ini berlokasi di Desa Margahayu, Bekasi Selatan.
Tempat wisata di Bekasi ini dibuka pada tahun 2012 dan memiliki luas sekitar 2 hektar. Di sini, terdapat banyak pepohonan dan udaranya relatif sejuk. Kegiatan yang bisa Anda lakukan antara lain piknik, bersepeda dan melihat penangkaran burung merpati dan kutilang.
10. Danau Marakas
Danau Marakas
Danau Marakas
Danau Marakas terletak di Pondok Ungu, Bekasi Utara. Tempat wisata ini menjadi salah satu tujuan banyak keluarga untuk menghabiskan akhir pekannya. Selain menikmati pemandangan danau, Anda bisa memancing, mencicipi kuliner di deretan warung sekitar atau berburu suvenir. Untuk masuk ke tempat wisata di Bekasi ini, Anda tidak dipungut biaya.

Referensi:


Penerapan Teori Piaget dalam Pembelajaran Matematika

Penerapan Teori Piaget dalam Pembelajaran Matematika

1.      Tahap Sensorimotor (0-2 tahun)
Untuk mengembangkan kemampuan matematika anak di tahap ini, kemampuan anak mungkin ditingkatkan jika dia cukup diperbolehkan untuk bertindak terhadap lingkungan. Anak – anak pada tahap sensorimotor memiliki beberapa pemahaman tentang konsep angka dan menghitung. Misalnya: Orang tua dapat membantu anak- anak mereka menghitung dengan jari, mainan dan permen. Sehingga anak dapat menghitung benda yang dia miliki dan mengingat apabila ada benda yang  ia punya hilang.
2.      Tahap persiapan operasional ( 2 -7 tahun)
Piaget membagi perkembangan kognitif tahap persiapan operasional dalam dua bagian:
a.      Umur 2 – 4 tahun
Pada umur 2 tahun, seorang anak mulai dapat menggunakan symbol atau tanda untuk mempresentasikan suatu benda yang tidak tampak dihadapannya. Penggunaan symbol itu tampak dalam 4 gejala berikut:
1)      Imitasi tidak langsung. Menurut Wadsworth (dalam Paul Suparno, 2001:51), Anak mulai dapat menggambarkan suatu hal yang sebelumnya dapat dilihat, yang sekarang sudah tidak ada. Dengan kata lain, ia mulai dapat membuat imitasi yang tidak langsung dari bendanya sendiri. Contohnya:  Bola sesungguhnya dalam bentuk bola plastik.
2)      Permainan simbolis
Dalam permainan simbolis, seringkali terlihat bahwa seorang anak berbicara sendirian dengan mainannya. Misalnya: Jika si anak merasa senang dengan bola, maka ia akan bermain bola – bolaan. Menurut Piaget, permainan tersebut merupakan ungkapan diri anak dalam menghadapi masalah, suasana hati, ketakutan dan lain – lain
3)      Menggambar
Menggambar pada tahap pra operasional merupakan jembatan antara permainan simbolis dengan gambaran mental. Unsur permainan simbolisnya terletak pada segi “kesenangan” pada diri anak yang sedang menggambar. Unsur gambaran mentalnya terletak pada usaha anak untuk mulai meniru sesuatu yang real.
4)      Gambaran mental
5)      Gambaran mental adalah penggambaran secara pikiran suatu objek atau pengalaman yang lampau. Pada tahap ini, anak masih mempunyai kesalahan yang sistematis dalam menggambarkan kembali gerakan atau transformasi yang ia amati.

b.      Umur 4 – 7 tahun (pemikiran intuitif)
Pada umur 4 – 7 tahun, pemikiran anak semakin berkembang pesat. Tetapi perkembangan itu belum penuh karena anak masih mengalami operasi yang tidak lengkap dengan suatu bentuk pemikiran atau penalaran yang tidak logis. Contoh: Terdapat 20 kelereng, 16 berwarna merah dan 4 putih diperlihatkan kepada seorang anak dengan pertanyaan berikut: “Manakah yang lebih banyak kelereng merah ataukah kelereng-kelereng itu?”
·         A usia 5 tahun menjawab: “lebih banyak kelereng merah.”
·         B usia 7 tahun menjawab: “Kelereng kelereng lebih banyak daripada kelereng yang berwarna merah.” Tampak bahwa A tidak mengerti pertanyaan yang diajukan, sedangkan B mampu menghimpun kelereng merah dan putih menjadi suatu himpunan kelereng atau dapat disimpulkan bahwa anak masih sulit untuk menggabungkan pemikiran keseluruhan dengan pemikiran bagiannya. Contoh lain, seorang anak dihadapkan dengan pertanyaan: “Manakah yang lebih berat 1 Kg kapas atau 1 Kg besi?”. Anak tersebut pasti menjawab 1 Kg besi tanpa berpikir terlebih dahulu. 
3.      Tahap operasi konkret (7 – 11 tahun)
Tahap operasi konkret dicirikan dengan perkembangan system pemikiran yang didasarkan pada aturan – aturan tertentu yang logis. Tahap operasi konkret ditandai dengan adanya system operasi berdasarkan apa- apa yang kelihatan nyata/konkret. Anak masih mempunyai kesulitan untuk menyelesaikan persoalan yang mempunyai banyak variabel. ya. Misalnya, bila suatu benda A dikembangkan dengan cara tertentu menjadi benda B, dapat juga dibuat bahwa benda B dengan cara tertentu kembali menjadi benda A. Dalam matematika, diterapkan dalam operasi penjumlahan (+), pengurangan (-), urutan (<), dan persamaan (=). Contohnya, 5 + 3 = 8 dan 8 – 3 = 5
Pada umur 8 tahun, anak sudah memahami konsep penjumlahanyang sterusnya berlanjut pada perkalian. Misalnya guru memberikan soal kepada siswa mengenai perkalian.
Guru: “Berapa 8 × 4, Dony?”
Dony: “ 32 Pak!”
Pada umur 9 tahun, penalaran anak masih cenderung tidak dapat menghubungkan suatu rangkaian atau gagasan yang terpisah dalam suatu keseluruhan yang masih kurang jelas.
Contohnya dalam menyelesaikan persoalan berikut:
Rambut Tina (T) kurang gelap daripada rambut Sinta (S). Rambut Tina (Ts) lebih gelap daripada rambut Lily (L). Rambut siapa yang lebih gelap?
4.      Tahap operasi formal (11 tahun keatas)
Pada tahap ini, anak sudah mampu berpikir abstrak bila dihadapkan kepada suatu masalah dan ia dapat mengisolasi untuk sampai kepada penyelesaian masalah tersebut. Pikirannya sudah dapat melampaui waktu dan tempat tidak hanya terikat pada hal yang sudah dialami. Contoh: Seorang anak mengamati topi ayahnya yang berbentuk kerucut. Ia ingin mengetahui volum dari topi ayahnya tersebut. Lalu ia mengukur topi tersebut dan memperoleh tinggi kerucut 30 cm dengan jari – jari 21 cm.


Referensi:


Teori Piaget dan Tahapannya

Teori Piaget dan Tahapannya

Piaget adalah seorang tokoh  psikologi kognitif yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan pemikiran para pakar kognitif lainnya.  Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf.  Dengan makin bertambahnya umur seseorang, maka makin komplekslah susunan sel syarafnya dan makin meningkat pula kemampuannya.  Ketika individu berkembang menuju kedewasaan, akan mengalami adaptasi biologis dengan lingkungannya yang akan menyebabkan adanya perubahan-perubahan kualitatif didalam struktur kognitifnya.  Piaget tidak melihat perkembangan kognitif sebagai sesuatu yang dapat didefinisikan secara kuantitatif.  Ia menyimpulkan bahwa daya pikir atau kekuatan metal anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif.
Menurut Piaget, proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap-tahap perkembangannya sesuai dengan umurnya.  Pola dan tahap-tahap ini bersifat hirarkhis, artinya harus dilalui berdasarkan urutan tertentu dan seseorang tidak dapat belajar sesuatu yang berada di luar tahap kognitifnya.
Dalam teorinya, Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak. Piaget adalah ahli psikolog developmentat karena penelitiannya mengenai tahap tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu. Menurut Piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemapuan mental yang sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektuan adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif. Dengan kata lain, daya berpikir atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif.
Jean Piaget mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi beberapa tahap yaitu:
a.      Tahap sensory – motor, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 0-2 tahun, Tahap ini diidentikkan dengan kegiatan motorik dan persepsi yang masih sederhana.
       Ciri-ciri tahap sensorimotor :
1)            Didasarkan tindakan praktis.
2)            Inteligensi bersifat aksi, bukan refleksi.
3)            Menyangkut jarak yang pendek antara subjek dan objek.
4)            Mengenai periode sensorimotor:
5)            Umur hanyalah pendekatan. Periode-periode tergantung pd banyak faktor lingkungan sosial dan kematangan fisik.
6)            Urutan periode tetap.
7)            Perkembangan gradual dan merupakan proses yang kontinu.

b.      Tahap pre – operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 2-7 tahun. Tahap ini diidentikkan dengan mulai digunakannya symbol atau bahasa tanda, dan telah dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang agak abstrak.
c.       Tahap concrete – operational, yang terjadi pada usia 7-11 tahun. Tahap ini dicirikan dengan anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis. Anak sudah tidak memusatkan diri pada karakteristik perseptual pasif.
d.      Tahap formal – operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 11-15 tahun. Ciri pokok tahap yang terahir ini adalahanak sudah mampu berpikir abstrak dan logisdengan menggunakan pola pikir “kemungkinan”.
Dalam pandangan Piaget, proses adaptasi seseorang dengan lingkungannya terjadi secara simultan melalui dua bentuk proses, asimilasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi jika pengetahuan baru yang diterima seseorang cocok dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang tersebut.  Sebaliknya, akomodasi terjadi  jika struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang harus direkonstruksi / di kode ulang disesuaikan dengan informasi yang baru diterima.
Dalam teori perkembangan kognitif ini Piaget juga menekankan pentingnya penyeimbangan (equilibrasi) agar seseorang dapat terus mengembangkan dan menambah pengetahuan sekaligus menjaga stabilitas mentalnya.Equilibrasi ini dapat dimaknai sebagai sebuah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamya. Proses perkembangan intelek seseorang berjalan dari disequilibrium menuju equilibrium melalui asimilasi dan akomodasi
Menurut Jean Piagiet, bahwa proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yaitu :
1.      Asimilasi yaitu proses penyatuan (pengintegrasian) informasi baru ke struktur kognitif  yang sudah ada dalam benak siswa. Contoh, bagi siswa yang sudah mengetahui prinsip penjumlahan, jika gurunya memperkenalkan prinsip perkalian, maka proses pengintegrasian antara prinsip penjumlahan (yang sudah ada dalam benak siswa), dengan prinsip perkalian (sebagai  informasi baru) itu yang disebut asimilasi.
2.      Akomodasi yaitu penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Contoh, jika siswa diberi soal perkalian, maka berarti pemakaian (aplikasi) prinsip perkalian tersebut dalam situasi yang baru dan spesifik itu yang disebut akomodasi.
3.      Equilibrasi (penyeimbangan) yaitu penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. Contoh, agar siswa tersebut dapat terus berkembang dan menambah ilmunya, maka yang bersangkutan menjaga stabilitas mental dalam dirinya yang memerlukan proses penyeimbangan antara “dunia dalam” dan “dunia luar”.
Proses belajar yang dialami seorang anak pada tahap sensori motor tentu lain dengan yang dialami seorang anak yang sudah mencapai tahap kedua (pra-operasional) dan lain lagi yang dialami siswa lain yang telah sampai ke tahap yang lebih tinggi (operasional kongrit dan operasional formal). Jadi, secara umum, semakin tinggi tingkat kognitif seseorang, semakin teratur (dan juga semakin abstrak) cara berfikirnya.
Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.

Referensi:

Mengembangkan Metode Pembelajaran

Mengembangkan Metode Pembelajaran

Mengenai definisi metode pembelajaran banyak istilah yang sering digunakan, seperti metode mengajar (teaching methods), strategi mengajar (teaching strategis), dan metode pembelajaran itu sendiri (instructional methods).
Metode adalah alat atau cara yang digunakan untuk digunakan untuk mengajarkan materi pembelajaran kepada peserta didik. Pilihan metode tergantung pada apa yang ingin diajarkan (konten), siapa yang diajarkan, dan tingkat kemampuan yang diharapkan.
Banyak sekali metode yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Hal ini dilakukan untuk memudahkan guru, dosen, atau instruktur dalam memilih metode yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.

Tabel Keterkaiatan Metode dengan Kecerdasan Jamak
Kecerdasan Jamak
Metode dan Gambaran Umum
Verbal-linguistik
1.      Ceramah (lecture);
2.      Curaj pendapat (brainstorming);
3.      Mendongeng atau bercerita (storytelling);
4.      Diskusi (discussion).
Logis-matematis
1.      Penyelesaian masalah (problem solving);
2.      Uji coba (exsperiment);
3.      Tanya jawab Socreates (Socreates’ questions);
4.      Berpikir kritis (critical thinking).
Visual-spasial
1.      Kiasan gambar (picture metaphors);
2.      Pemetaan ide (ideas mapping);
3.      Sketsa ide (idea sketching);
4.      Visualisasi (visualization).
Jasmaniah-kinetik
1.      Demonstrasi (demonstration);
2.      Bermain peran (role play);
3.      Studi lapangan/karyawisata (field trip);
4.      Berpantomim (pantomym).
Musikal-berirama
1.      Diskografi (discography);
2.      Sugestopedia (suggestopedia);
3.      Music instrumen (instrumentak music);
4.      Pengkondisian suasana musik (musical conditioning).
Interpersonal
1.      Jigsaw;
2.      Mengajar teman sebaya (peer tutoring);
3.      Belajar beregu (teamwork);
4.      Permainan (games);
5.      Kebekuan pikiran atau fisik peserta didik.
Intrapersonal
1.      Studi mandiri (independent study);
2.      Belajar dengan alat bantu komputerm (computer assitedlearning);
3.      Refleksi (reflektive learning);
4.      Belajar dengan pengaturan sendiri (self goal setting).
Naturalistik
1.      Belajar melalui alam (learning through nature);
2.      Jendela belajar (windows for learning).
Eksistensial-spiritual
1.      Respons peristiwa;
2.      Panggung beramal (charity event).[10]


referensi:

Urutan Kegiatan Pembelajaran

Urutan Kegiatan Pembelajaran

Urutan kegiatan instruksional terdiri atas komponen:
1.            Pendahuluan
Pendahuluan merupakan kegiatan awal dari kegiatan pembelajaran. Dick dan Carrey (2001) menyebutkan pre instructional activities. Kegiatan awal tersebut dimaksudkan untuk mempersiapkan agar peserta didik secara mental siap mempelajari pengetahuan, keterampilan, dan sikap baru. Di samping itu, juga memberikan motivasi kepada peserta didik agar mengetahui manfaat mempelajari mata pelajaran untuk kehidupannya selanjutnya.

Fungsi sub komponen pendahuluan antara lain:
a.       Penjelasan singkat tentang isi pelajaran;
b.      Penjelasan relevansi isi pelajaran baru;
c.       Penjelasan tentang tujuan instruksional
Dengan selesainya kegiatan pendahuluan tersebut, peserta didik telah memiliki gambaran global tentang apa yang akan dipelajari.

2.            Penyajian
Subkomponen penyajian adalah inti dari kegiatan pembelajaran. Setelah melakukan kegiatan pendahuluan, pelajar memasuki kegiatan penyajian. Dalam kegiatan ini ada tiga komponen utama, yaitu:
a.       Uraian : adalah penjelasan tentang materi atau konsep, prinsip, dan prosedur yang akan dipelajari peserta didik.
b.      Contoh : adalah benda atau kegiatan yang ada dalam kehidupan nyata peserta didik yang relevan dengan bahan pengajaran.
c.       Latihan : adalah kegiatan pelajar dalam rangka menerapkan konsep, prinsip, dan prosedur yang sedang dipelajari ke dalam praktik yang relevan dalam kehidupan sehari-hari.
3.            Penutup
Penutup adalah subkomponen terakhir dalam kegiatan pembelajaran. Penutup terdiri atas dua langkah, yaitu:
a.       Tes informatif dan umpan balik;

b.      Tindak lanjut 

Tiga Isu Utama yang Perlu Diperhatikan Pengembang Pembelajaran

Tiga Isu Utama yang Perlu Diperhatikan Pengembang Pembelajaran

Intulogy (2012) menyarankan tiga isu utama yang perlu diperhatikan oleh para pengembang pembelajaran dalam mengembangkan strategi pembelajaran. Ketiga isu utama yang dimaksud diilustrasikan dengan tiga pertanyaan sebagai berikut:
1.            Bagaimana materi pembelajaran dikelompokkan dan diurutkan?;
2.            Apa metode dan taktik pembelajaran yang digunakan dalam menyajikan materi (bahan)?;
3.            Bagaimana alat penilaian mengukur keberhasilan peserta didik?
Pertanyaan pertama menghendaki adanya pengelompokkan dan urutan materi pembelajaran yang jelas dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran. Beberapa pilihan urutan yang dapat dijadikan petunjuk sebagai berikut:
·                  Tahap demi tahap (step by step);
·                  Bagian keseluruhnya ke umum (part to whole);
·                  Seluruhnya ke bagian (whole to part);
·                  Dari yang diketahui ke yang belum diketahui (known to unknown);
·                  Umum ke khusus (general to specifik).
Pertanyaan kedua menyiratkan adanya metode dan taktik yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran agar tercipta proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Kemudian pertanyaan ketiga merujuk pada pentingnya menyediakan instrumen penilaian yang memiliki tingkat keandalan, validitas, dan kewajaran yang tinggi dalam menilai proses pembelajaran.
Selain yang disarankan oleh Intulogy (2012) dengan tiga pertanyaan diatas, Gagne dkk (2005) menjabarkan peristiwa belajar atau yang dikenal dengan the nine event of instruction yang dihubungkan dengan strategi pembelajaran, yang mencakup:
1.            Gaining attention (menarik perhatian);
2.            Informing learnes of the objective (menjelaskan tujuan pembelajaran);
3.            Stimulating recall of prior learning (mengingatkan pengetahuan sebelumnya);
4.            Presenting the stimulus (memberi stimulus);
5.            Providing feedback (memberi umpan balik);
6.            Elicting performance (memfasilitasi berkembangnya kinerja);
7.            Providing feedback (memberi umpan balik);
8.            Assessing performance (menilai kemampuan dan kinerja);
9.            Enhancing retention and transfer (meningkatkan pemahaman dan tranfer pengetahuan peserta didik).
Masing-masing dari sembilan peristiwa belajar tersebut dapat disertai dengan satu atau lebih aktivitas pembelajaran (instructional activity), yang dibedakan dengan istilah aktivitas belajar (learning activity). Namun, tampaknya kesembilan peristiwa belajar di atas tidak seluruhnya dapat terintegrasi dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, peristiwa pembelajaran tersebut, kemudian disederhanakan ke dalam lima komponen yang merupakan bagian dari strategi pembelajaran. Kelima komponen tersebut terdiri atas: (1) aktivitas sebelum pembelajaran, (2) penyajian isi pembelajaran, (3) partisipasi peserta didik, (4) penilaian, (5) aktivitas atau kegiatan tindak lanjut (Dick dan Carey, 2009)


referensi: